Pilar Pilar Peradaban Pesantren

Please download to get full document.

View again

All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
 0
 
  Description:
Share
Transcript
   277 PILAR-PILAR PERADABAN PESANTREN; POTRET POTENSI DAN PERAN PESANTREN SEBAGAI PUSAT PERADABAN 1   Abstrak Pesantren sejak awal berdirinya hingga sekarang menjadi salah satu pusat studi Islam yang paling dipercaya umat Islam. Kegiatan pendidikan keagamaan di Pesantren dinilai komprehensif karena tidak hanya terjadi transfer of konwoledge, akan tetapi ; tidak hanya mendasarkan pada  pemahaman teori, akan tetapi praktik ibadah sekaligus; tidak hanya mengandalkan hapalan serangkaian teori keilmuan akan tetapi membiasakan diri dalam tradisi ritual; tidak hanya secara retoris menggalakkan konsep , tawassuth, dan tawazun, tetapi juga mengimplementasikannya dalam tataran  praksis kehidupan pesantren. Pesantren mempunyai kekuatan ganda (double  power) yaitu kyai sebagai pemimpin pesantren dan pesantren sendiri sebagai institusi dan sistem pendidikan. Sebagai salah satu kekayaan budaya umat Islam Indonesia yang khas, pesantren telah terbukti menjadi barometer pertahanan moralitas umat Islam dan merupakan lembaga sosial yang mampu melakukan  perubahan masyarakat di lingkungannya ke arah transformasi nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Pilar-pilar peradaban pesantren mengejawantah melalui potensi dan peran yang dimainkan oleh pesantren dalam mempertahankan eksistensinya dan berperan aktif memanfaatkan potensinya sebagai lembaga pendidikan untuk kepentingan tafaqquh fiddin.  Kata Kunci : Pesantren, Pilar peradaban, eksitensi pesantren. A. Pendahuluan Secara historis, sejarah bangsa Indonesia, baik itu sejarah sosial budaya masyarakat Islam, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia. Sejak masa awal penyebaran Islam Indonesia, pesantren adalah sarana penting bagi kegiatan Islamisasi di Indonesia.  perkembangan dan kemajuan masyarakat Islam Nusantara, khususnya di Jawa yang tidak mungkin terpisahkan dari peranan yang dimainkan pesantren. Berpusat dari pesantren, perputaran roda ekonomi dan kebijakan politik Islam 1  Muamar, STIK Kendal Jawa Tengah   278 dikendalikan. Di masa Walisongo, tidak sedikit wali-wali di Jawa menguasai  jaringan perdagangan antara pulau Jawa dengan pulau di luar Jawa, seperti Sunan Giri yang memiliki jaringan perdagangan antara Jawa dengan Kalimantan, Maluku, Lombok dan sebagainya. Begitu pula dengan perjalanan politik Islam di Jawa, pesantren mempunyai pengaruh yang kuat bagi pembentukan dan  pengambilan sebagai kebijakan di keraton-keraton. Misalnya, berdirinya Kerajaan Islam Demak, adalah karena dukungan dan kontrol kuat dari para ulama, seperti Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan sebagainya. Dari situlah, dapat disimpulkan bahwa dinamika masyarakat Islam di masa awal dapat ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antara pesantren, pasar, dan keraton. 2  Pada mulanya, pesantren menunjukkan suatu komunitas yang dinamis dan kosmopolit, karena berkembang di tangah-tengah masyarakat urban, seperti Surabaya (Ampel Delta), Gresik (Giri), Tuban (Sunan Bonang), Demak, Cirebon, Banten, Aceh (Sumatera), Makasar (di Sulawesi) dan sebagainya. Kedinamisan pesantren tidak hanya di bidang ekonomi dan dekatnya dengan kakuasaan, tetapi juga dalam keilmuan Islam, membuat Taufik Abdullah mencatat pesantren sebagai pusat pemikiran keagamaan. 3  Kecenderungan kehidupan pesantren yang kosmopolit dan dinamis  berubah setelah kedatangan penjajah Belanda. Dengan dikuasainya kota-kota  perdagangan oleh Belanda membuat pesantren terdorong keluar dari kota-kota di Setelah itu, pesantren hanya memusatkan perhatian dalam masalah-masalah agama. Semakin kuat penjajahan Belanda yang diikuti dengan upaya Westernisasi dan modernisasi, menyebabkan pesantren semakin menutup diri.  Namun, pesantren tidak bisa menutup mata terhadap rakyat. Sejak masa kolonial Belanda, pesantren telah memberikan kontribusi yang besar dalam mengusir  penjajah dari tanah air. 4  Motivasi politik melawan kaum kolonial yang ditunjukkan oleh pesantren misalnya terwujud dalam resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asyari. Kalangan  pesantren dengan semangat jihad yang tinggi ikuit serta memainkan peran politik  penting dalam waktu itu. Gelora jihad oleh KH. Hasyim Asyari ini merupakan manifestasi tertinggi dari kesadaran dan harga diri di kalangan komunitas  pesantren. 5   2  Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalimah, 1999) hlm. 183 3  Ibid., 4  Ibid., 5  Intelektual Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2003), hlm. 50   279 Dari deskripsi di atas, pesantren memainkan peranan penting dalam  perjalanan bangsa Indonesia dalam berbagai bidang. Dalam konteks inilah  pesantren mempunyai pilar-pilar peradaban yang akan membangun peradaban di nusantara. Berbagai bidang tersebut selanjutnya akan dielaborasi lebih lanjut, yang meliputi bidang keilmuan, bidang sosial budaya, bidang ekonomi kerakyatan, dan bidang politik-kebangsaan. B. Pilar Peradaban Pesantren: Keilmuan dan Tradisi Pesantren Pesantren sejak awal berdirinya hingga sekarang menjadi salah satu pusat studi Islam yang paling dipercaya umat Islam. Kegiatan pendidikan keagamaan di Pesantren dinilai komprehensif karena tidak hanya terjadi transfer of konwoledge, akan tetapi ; tidak hanya mendasarkan pada  pemahaman teori, akan tetapi praktik ibadah sekaligus; tidak hanya mengandalkan hapalan serangkaian teori keilmuan akan tetapi membiasakan diri dalam tradisi ritual; tidak hanya secara retoris menggalakkan konsep , tawassuth, dan tawazun, tetapi juga mengimplementasikannya dalam tataran  praksis kehidupan pesantren. Bisa dikatakan bahwa pesantren merupakan miniatur masyarakat Islam ideal yang jika pengaruhnya sampai pada spektrum yang lebih luas tentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat sesuai dengan kehidupan pesantren itu sendiri. Masyarakat di sekitar pesantren cenderung mengikuti pola kehidupan  pesantren. Sebaran alumni pesantren di berbagai belahan nusantara cenderung  berperilaku sesuai dengan tradisi pesantren di mana dulu ia menimba ilmu, dan ia akan berusaha menrapkan tradisi keilmuan dan ibadah, tata nilai dalam masyarakat di mana ia tinggal. Basis keilmuan pesantren yang utama adalah kitab kuning sehingga  pemikiran para ulama yang ada di dalamnya bisa digali, dipahami, diamalkan dan dilestarikan secara kontinyu dari generasi ke generasi. Proses mata rantai keilmuan pesantren melalui kitab kuning ini menciptakan tradisi yang unik, yakni konsep ijazah/sanad yang muttashil (menyambung) dari ulama pesantren yang mengajarkannya sampai kepada (pengarang) kitab tersebut. Transmisi keilmuan semacam inilah yang menjadi keunggulan pesantren sehingga bisa dinilai bahwa kemurnian keilmuan pesantren bisa dijaga dan ditelusuri sampai kepada . Dari ini kemudian bisa ditelusuri mata rantai keilmuannya sampai kepada Rasululah Muhammad saw. Melalui sejumlah kitab riwayat para imam/para ulama dapat diketahui sejumlah riwayat   280  para ulama pengarang kitab tersebut. Hal ini semakin menguatkan keyakinan kebenaran transmisi keilmuan pesantren. Tradisi sanad ini memang unik dan menjadi ciri khas pesantren. Geneologi intelektual pesantren, sebagaimana dalam catatan Zamachsyari -dokumen sejarah dan ingatan para ulama pesantren. Baik melalui tulisan dalam sanad, buku-buku sejarah maupun oral history yang berkembang di dunia  pesantren, mereka dapat menemukan ikatan geneologi keilmuan antarpesantren yang saling kait mengkait dan bermuara pada sejumlah tokoh besar nusantara dan ulama terkemuka di haramaian, Makkah dan Madinah. Pesantren memiliki semangat keilmuan yang tidak bisa dipungkiri. Implementasi ajaran t bagi masyarakat santri bukan hanya merupakan ajaran ideal Nabi tentang pendidikan seumur hidup. life long education, lebih dari itu ia merupakan pilihan hidup yang harus ditunjukan dalam kegiatan sehari-hari para santri tanpa henti. dengan demikian, merupakan misi utama kaum santri yang sangat mewarnai budaya pesantren sehingga lahirlah santri-santri kelana, wandering santris, di masa lampau. dalam tradisi pesantren, yang tidak berbeda dengan tradisi keilmuan di pusat dunia Islam, sungguh memiliki justifikasi keagamaan dan kesejahterahan yang cukup mengakar. Dengan kata lain, budaya dalam dunia pesantren telah menyejarah, melembaga, dan menjadi bagian dari ideologi. Masyarakat luas, khususnya masyarakat tradisional, telah menyaksikan dan ikut menikmati budaya dari pesantren-pesanten salaf. Ini adalah model pendidikan yang terjangkau oleh setiap penduduk, termasuk oleh warga negara yang serba berkekurangan sekalipun. Masyarakat juga menikmati lahirnya alumni-alumni pesantren salaf yang di kemudian hari menjadi  pemimpin-pemimpin informal, kharismatik di tengah-tengah mereka dengan kelebihan ilmu agama dan moralitas agama pesantren. Integrasi pesantren dengan masyarakat ini sungguh telah mengakar dan membudidaya dari dulu sampai sekarang. Ini adalah bagian dari wujud konklusi selama ini, the ical and ideological continuum. 6  Jika pada pesantren salaf orientasi keilmuan terbatas pada ilmu-ilmu agama, pada pesantren modern, budaya keilmuan berjalan seiring dengan kebutuhan modernitas, tetapi tetap didasari ruh Islamiyah. Ilmu-ilmu umum atau 6  Menuju Paradigma Islam Humanis, (Yogyakarta: Gama Media, 2003), hlm. 243
Related Search
Similar documents
View more
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x