Please download to get full document.

View again

All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
 0
 
  Description:
Share
Transcript
  Halaman 1  P -ISSN: 2303-1832   Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-BiRuNi 07 (1) (2018) 41-47  e-ISSN: 2503-023X DOI: 10.24042 / jipfalbiruni.v7i1.2329  April 2018 ANALISIS MANAJEMEN LABORATORIUM FISIKA DI   WILAYAH UTARA NEGARA MAKASSAR SENIOR TINGGI   SEKOLAH DENGAN STANDAR FASILITAS DAN INFRASTRUKTUR    Santih Anggereni * 1  , Muh.   Syihab Ikbal 2  1,2 Departemen Pendidikan Fisika, Tarbiyah dan Fakultas Pelatihan Guru, UIN Alauddin Makassar   * Alamat korespondensi: santih.anggereni@uin-alauddin.ac.id Diterima: 7 Oktober,  2017. Disetujui: 8 Maret,  2018. Diterbitkan: 28 April th  2018 Abstrak:  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui: 1). Deskripsi laboratorium fisika manajemen terkait dengan tata letak berdasarkan standar fasilitas, 2). Deskripsi manajemen laboratorium fisika yang berhubungan dengan fisika berdasarkan standar fasilitas, dan 3). Deskripsi tentang manajemen laboratorium fisika yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan berdasarkan standar fasilitas dan infrastruktur. Populasi dalam penelitian ini adalah enam SMA negeri (SMAN) di wilayah utara dari Makassar. Tiga sampel diperoleh dengan purposive sampling. Hasilnya menunjukkan bahwa manajemen tata letak fisika telah memenuhi standar. Manajemen Tata Ruang laboratorium dikategorikan sebagai kurang sesuai dengan standar. Kesehatan dan keselamatan kerja (OHS) dikategorikan kurang tepat dengan standar. Berdasarkan hasil yang didapat dapat disimpulkan bahwa hanya dalam aspek manajemen tata letak laboratorium fisika sesuai dengan peraturan Kementerian Nasional Pendidikan No.24, 2007. © 2018 Pendidikan Fisika, UIN Raden Intan, Lampung, Indonesia. Kata kunci:  Keselamatan kerja, laboratorium fisika, manajemen tata letak, manajemen spasial. PENGANTAR   Fisika adalah ilmu yang membutuhkan observasi dan pengukuran dilakukan melalui eksperimen. Pengamatan fenomena alam dilakukan dengan mengamati dan menganalisa faktor penyebab dan efek yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Secara umum, fenomena alam tidak memberikan kesempatan untuk menganalisa efek yang dialami. Ini bisa diatasi  dengan bereksperimen di mana berbagai  pengaruh dirancang sebelumnya, dan negara yang diinginkan juga dikendalikan. Eksperimen mengambil peran yang sangat penting dalam  perkembangan ilmu pengetahuan modern dan tempatkan pentingnya bekerja laboratorium untuk siswa dan peneliti (Sani, 2012). Salah satu prasyarat dalam belajar atau  praktek sains di laboratorium  pemanfaatan. Oleh karena itu, perlu memiliki sistem manajemen yang baik atau ilmu laboratorium  pengelolaan. Manajemen laboratorium memiliki hal yang penting  peran dalam mewujudkan efektivitas  pembelajaran sains (Novianti, 2011). SEBUAH laboratorium adalah tempat eksperimental dan kegiatan penelitian dilakukan. Ini tempat bisa menjadi ruang tertutup atau terbuka (Mastika, Adnyana, & Setiawan, 2014). Peraturan Menteri Nasional Pendidikan no. 24 tahun 2007, menggambarkan standar peralatan laboratorium dan infrastruktur yang harus diperhatikan oleh unit pendidikan dalam mengelola laboratorium. Standar yang dimaksud adalah tentang tata letak, tata ruang, dan keamanan di laboratorium. Keberadaan laboratorium sains di Sekolah Pertama dan Menengah memainkan a  peran dalam mendukung pengajaran dan  proses pembelajaran di bidang sains melalui pemahaman tentang alam fenomena sebagai hasil dari pengamatan itu dapat menghasilkan Siswa yang mampu melakukannya analitis, kritis, dan kreatif Halaman 2  42 Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-BiRuNi, 07 (1) (2018) 41-47   berpikir. Pengadaan alat sains di sekolah memainkan peran untuk meningkatkan efisiensi laboratorium sesuai dengan kemajuan Sains dan Teknologi  (Darsana, Sadia, & Tika, 2013). Sebagai bagian dari pembelajaran sains, fisika  belajar juga membutuhkan laboratorium. Ini laboratorium fisika diharapkan menjadi tempat untuk pengembangan pola pikir siswa dan sikap ilmiah. Di laboratorium, siswa dan guru melakukan pembelajaran dalam bentuk praktikum dan penelitian. Guru dapat menggunakan fasilitas laboratorium untuk kegiatan praktikum, tempat praktikum kegiatan merupakan bagian integral dari pengajaran dan kegiatan belajar. Laboratorium menjadi ruang lingkup Nasional Standar Pendidikan tentang kriteria minimum yang diperlukan untuk mendukung  proses pembelajaran termasuk teknologi dan komunikasi (Imastuti, Wiyanto, & Sugianto, 2016). Anwar menyatakan bahwa pelaksanaannya Praktek Fisika di lapangan sekarang masih menghadapi banyak rintangan (Anwar, E., 2014). Masalah yang dihadapi oleh guru dalam melakukan  praktikum seperti kurangnya peralatan,  bahan, dan kurangnya pengetahuan dan keterampilan  para guru dalam mengelola praktikum kegiatan. Selain itu, ketiadaan asisten yang membantu guru dan juga  banyak siswa menyulitkan untuk mengatur  proses kegiatan. Menurut Novianti, pemanfaatannya laboratorium sains akan dimaksimalkan jika didukung oleh manajemen atau sistem yang sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Novianti, 2011). Sebagai hasil penelitian Yaman menegaskan  bahwa laboratorium sains seharusnya dikelola dan diberdayakan menjadi ideal laboratorium, misalnya, kondisi laboratorium sains di SMPN 7 Kubung diproduksi sangat jauh dari kondisi ideal (kurang sesuai dengan Peraturan Departemen Pendidikan Nasional) (Yaman, 2016). Ini membutuhkan Kepala Sekolah yang kompeten Kepribadian laboratorium, sosial, manajerial, dan kemampuan profesional dalam mengelola  laboratorium, sehingga laboratorium bisa  berfungsi secara optimal. Keakuratan dari manajemen akan berdampak pada Keberhasilan pembelajaran sains, begitulah diperlukan untuk menganalisa manajemen laboratorium sains yang dilakukan di sekolah-sekolah, terutama dalam studinya yang terfokus pada kompetensi para manajer laboratorium diri. Berdasarkan pengamatan awal, sekolah-sekolah di wilayah utara Makassar memiliki laboratorium fisika. Namun, itu laboratorium di sekolah tidak digunakan sesuai fungsinya. Ada laboratorium yang digunakan sebagai multifungsi kamar; dalam hal ini, mereka digunakan sebagai ruang kelas dan gudang. Sebagai tambahan, manajemen laboratorium tata letak fisik, peralatan, dan  bahan tidak disiapkan sesuai dengan karakteristik masing-masing. Ini keadaan laboratorium fisika, seperti yang diperoleh dari pengamatan, tentu memberi  berdampak pada proses pembelajaran fisika, terutama pada kegiatan praktis. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ali (2015) tentang kinerja laboratorium fisika di Indonesia Sekolah menengah atas Islam di kota Bandung Makassar menunjukkan bahwa kinerja kepala laboratorium sekolah berada di a kategori rendah (Ali, 2015). Namun, itu  belajar tidak melihat pengaturan atau manajemen ruang laboratorium, tata letak laboratorium dan operasional kesehatan dan keselamatan (OHS). Berdasarkan uraiannya, itu dianggap perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Fisika Manajemen Laboratorium di Bagian Utara Daerah Tinggi Negara Bagian Makassar Sekolah berdasarkan Standar Fasilitas dan Infrastruktur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk selidiki deskripsi fisika manajemen laboratorium berdasarkan standar sarana dan prasarana di Indonesia
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x