25003 ID Penyimpanan Obat Di Gudang Instalasi Farmasi Rs Pku Muhammadiyah Yogyakarta Unit

Please download to get full document.

View again

All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Transcript
    KES MAS ISSN : 1978-0575 29 PENYIMPANAN OBAT DI GUDANG INSTALASI FARMASI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT I Baby Sheina, M.R. Umam, Solikhah Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta Abstract Background:  Medicine arrangement in Hospital Pharmaceutical Installation included planning, procurement, distribution, and utilizing. Medicine storage indicator was : the suitability between goods and stock card, TOR (Turn Over Ratio), percentage of medicine which was expired and or damaged, storage room arrangement system, percentage of dead stock, and percentage of final stock value. Based on the result of work evaluation of Pharmaceutical Supply Inventory for tablet supply in Pharmaceutical Installation Storage Room at PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital Unit I, it was found that unsuitability between goods quantity with stock card and computerization was as much as 15,38 %, TOR value was 29 times every year, final sock value was 6 %, medicine percentage was ED (expired date) 0,03 %. This data showed us that the suitability between goods and stock care, medicine ED percentage, TOR, and final stock value didn’t meet the hospital target  yet. Method:  This research was a kind of qualitative description with a draft as observational research. The subjects at this research were The Head of Pharmaceutical Installation, The Head of Pharmaceutical Installation Storage Room, officers of Pharmaceutical Installation Storage Room, and The Head of Maintenance Unit. The means of the research used observatory method and a deep interview. Data analysis was made in a way of qualitative description, and triangulation technique was done to guarantee data validity. Results:  Based on the result of research by using observation and deep interview, we knew that medicine storage system in Pharmaceutical Installation Storage Room didn’t meet the standard   because the medicine arrangement didn’t refer to therapy class/ medicine merit. The building and the  r  ooms were suitable with the standard, but the equipments didn’t meet the standard because there  was no alarm, gram and milligram measurement, box opener, and maintenance card. Human resource was already suitable with the standard because there were Pharmacist and the assistant available. Conclusion:  The factor of medicine and equipment stock room system was not suitable with the standard, but the factor of building, rooms and human resource in Pharmaceutical Installation Storage Room at PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital Unit I were already suitable with the standard. Keywords :  Medicine storage, Building and Rooms, Equipment, Human Resource. 1. PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hak asasi manusia. Setiap orang mempunyai hak untuk hidup layak, baik menyangkut kesehatan pribadi maupun keluarganya termasuk di dalamnya mendapat makanan, pakaian, dan pelayanan kesehatan serta pelayanan sosial lain yang diperlukan. 1 Upaya kesehatan bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakannya disebut sarana kesehatan. Sarana kesehatan berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan dasar atau upaya kesehatan rujukan dan/atau upaya kesehatan penunjang. Selain itu, sarana kesehatan dapat juga dipergunakan untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan serta penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan. Salah satu sarana kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan adalah rumah sakit. 1 Page 29 Penyimpanan Obat di Gudang Instalasi Farmasi……….(Baby Sheina)    Page 30 30 ISSN : 1978-0575 Rumah sakit dengan organisasi di dalamnya harus dikelola dengan sebaik- baiknya, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin kepada masyarakat, sehingga tercapai tujuan terciptanya derajat kesehatan yang optimal. Salah satu diantaranya adalah pengelolaan obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), meliputi: perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi dan penggunaan obat. IFRS merupakan bagian dari unit pelayanan penunjang medik yang sangat penting di rumah sakit karena memberikan pelayanan obat serta bahan dan alat kesehatan habis pakai dari kebutuhan rumah sakit. Selain itu merupakan unit yang paling banyak menggunakan anggaran untuk pengadaan obat. Di lain pihak IFRS merupakan sumber penerimaan bagi rumah sakit. 1 Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta merupakan rumah sakit tipe C plus yang status kepemilikannya adalah Yayasan Muhammadiyah. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan berfungsi memberikan pelayanan kefarmasian yang meliputi perencanaan, penyediaan, dan distribusi semua perbekalan farmasi, pelayanan kefarmasian, memberikan informasi dan menjamin kualitas seluruh pelayanan yang menjadi tanggung jawab farmasi sampai ke permasalahan penggunaan obat serta penelitian dan pengembangan. Indikator penyimpanan obat yaitu: 1) Kecocokan antara barang dan kartu stok, indikator ini digunakan untuk mengetahui ketelitian petugas gudang dan mempermudah dalam pengecekan obat, membantu dalam perencanaan dan pengadaan obat sehingga tidak menyebabkan terjadinya akumulasi obat dan kekosongan obat, 2) Turn Over Ratio, indikator ini digunakan untuk mengetahui kecepatan perputaran obat, yaitu seberapa cepat obat dibeli, didistribusi, sampai dipesan kembali, dengan demikian nilai TOR akan berpengaruh pada ketersediaan obat. TOR yang tinggi berarti mempunyai pengendalian persediaan yang baik, demikian pula sebaliknya, sehingga biaya penyimpanan akan menjadi minimal, 3) Persentase obat yang sampai kadaluwarsa dan atau rusak, indikator ini digunakan untuk menilai kerugian rumah sakit, 4) Sistem penataan gudang, indikator ini digunakan untuk menilai sistem penataan gudang standar adalah FIFO dan FEFO, 5) Persentase stok mati, stok mati merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan item persediaan obat di gudang yang tidak mengalami transaksi dalam waktu minimal 3 bulan, 6) Persentase nilai stok akhir, nilai stok akhir adalah nilai yang menunjukkan berapa besar persentase jumlah barang yang tersisa pada periode tertentu, nilai persentese stok akhir berbanding terbalik dengan nilai TOR. 1 Menurut Surat Keputusan Direksi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta No 1900/E-IV/SK.3.2/06/08 tentang Pedoman Pelayanan Farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk target presisi (kecocokan) data stok dilogistik farmasi ≥90%, hal ini be rarti tingkat ketidaksesuaian antara barang di gudang dengan kartu stok dan komputer harus ≤10%, target persentase obat  expired date  (ED) sebesar 0%, target  turn over ratio   (TOR) gudang farmasi ≥36 kali per tahun, target persentase  stok akhir gudang farmas i ≤3%, dan target persentase  death stock    (stok mati) ≤5%.  Berdasarkan hasil evaluasi kinerja dari  inventory   perbekalan farmasi untuk sediaan tablet di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I triwulan I tahun 2009, didapatkan persentase ketidaksesuaian jumlah obat yang ada di gudang dengan kartu stok dan komputer sebesar 15,38%, nilai TOR gudang farmasi 29 kali per tahun, nilai stok akhir gudang farmasi 6%, persentase obat ED pada triwulan I tahun 2009 sebesar 0,03%, hampir mendekati nilai 0 % namun belum 0% sehingga dapat diartikan masih ditemukannya obat ED pada triwulan I tahun 2009. Hal ini menunjukkan bahwa presisi data stok, persentase obat ED, nilai TOR, dan nilai stok akhir tahun belum memenuhi target rumah sakit. Persentase stok mati sebesar 2,18% menunjukkan bahwa persentase stok mati telah mencapai target yang diharapkan namun akan lebih baik jika diminimalkan jumlahnya. KES MAS   Vol. 4, No. 1, Januari 2010 : 1 - 75    KES MAS ISSN : 1978-0575 31 Pengelolaan obat oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di rumah sakit, oleh karena itu pengelolaan obat yang kurang efisien pada tahap penyimpanan akan berpengaruh terhadap peran rumah sakit secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan sebagai penelitian observasional. Penelitian ini dilakukan di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I. Subyek penelitian yaitu Kepala Instalasi Farmasi, Kepala Gudang Instalasi Farmasi, Petugas Gudang Instalasi Farmasi, dan Kepala Bagian Pemeliharaan. Alat penelitian menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan untuk menjamin validitas data dilakukan teknik  triangulasi  . 3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN a. Faktor Sistem Penyimpanan Obat di Gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit Sistem penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi menggunakan gabungan antara metode FIFO dan metode FEFO. Metode FIFO ( First in First Out  ), yaitu obat-obatan yang baru masuk diletakkan di belakang obat yang terdahulu, sedangkan metode FEFO ( first expired first   out) dengan cara menempatkan obat-obatan yang mempunyai ED ( expired date ) lebih lama diletakkan di belakang obat-obatan yang mempunyai ED lebih pendek. Proses penyimpanannya memprioritaskan metode FEFO, baru kemudian dilakukan metode FIFO. Barang yang ED-nya paling dekat diletakkan di depan walaupun barang tersebut datangnya belakangan. Sistem penyimpanan dikelompokkan berdasarkan jenis dan macam sediaan, yaitu: 1). Bentuk sediaan obat (tablet, kapsul, sirup, drop, salep/krim, injeksi dan infus). 2). Bahan baku. 3). Nutrisi. 4). Alat-alat kesehatan. 5). Gas medik. 6). Bahan mudah terbakar. 7). Bahan berbahaya. 8). Reagensia. 9). Film Rontgen. Penyusunan obat pada Gudang Instalasi Farmasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I sudah berdasarkan abjad/alphabetis dari A-Z, tetapi penyusunannya belum dilaksanakan berdasarkan kelas terapi/khasiat obat. Penyimpanan obat di gudang diawali dari menerima barang dan dokumen- dokumen pendukungnya, memeriksa barang, pengarsipan, memasukkan data- data ke komputer, setelah itu proses menyimpan barang di ruang penyimpanan. Kesesuaian antara sistem penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I dengan standar Seto adalah sebagai berikut: Page 31 Penyimpanan Obat di Gudang Instalasi Farmasi……….(Baby Sheina)    32 ISSN : 1978-0575 Tabel 1. Kesesuaian Antara Sistem Penyimpanan Obat di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I dengan Standar Seto  5 Pelaksanaan di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiya h Yogyakarta Unit I Standar Ya Tidak Metode FIFO Metode FEFO Penggolongan berdasarkan jenis dan macam sediaan Penggolongan berdasarkan abjad Penggolongan berdasarkan kelas terapi/khasiat obat √   √   √   √   √   Sistem penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I tidak sesuai dengan standar Seto  5 , karena dalam sistem penyimpanan obatnya menggunakan metode FIFO dan FEFO, penggolongan obat berdasarkan jenis dan macam sediaan, dan penggolongan obat berdasarkan abjad/alphabetis, namun belum menerapkan penggolongan obat berdasar kelas terapi/khasiat obat. Hambatan terkait dengan penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit I antara lain adalah penggolongan obat yang belum berdasarkan kelas terapi/khasiat dikarenakan pola peresepan obat oleh dokter yang berubah-ubah. Hal tersebut dapat menyebabkan obat disimpan di gudang dalam yang waktu yang lama, sehingga resiko obat ED semakin besar. Hal tersebut dapat diatasi dengan cara: 1) Rumah sakit membentuk  Clinical Leader,  yaitu membentuk suatu perkumpulan yang terdiri dari para dokter yang dipimpin oleh para dokter spesialis yang profesional untuk merumuskan suatu standar obat/formularium untuk penyakit yang sedang  trend   saat ini yang kemudian direkomendasikan ke PFT (Panitia Farmasi dan Terapi). 2) PFT mengembangkan, merevisi, mengubah, dan menetapkan formularium berdasarkan rekomendasi  Clinical Leader. 3) PFT menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan terapi obat yang aman dan bermanfaat. Seorang dokter harus memiliki cukup pengetahuan dasar mengenai ilmu- ilmu farmakologi yaitu tentang farmakodinamik, farmakokinetik, dan sifat-sifat fisiko kimia obat yang diberikan dapat menuliskan resep yang tepat dan rasional. Oleh karena itu dokter memainkan peranan penting dalam proses pelayanan kesehatan khususnya dalam melaksanakan pengobatan melalui pemberian obat kepada pasien. 2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) mempunyai berbagai fungsi, yang dapat digolongkan menjadi fungsi nonklinik dan fungsi klinik. Lingkup fungsi farmasi klinik mencakup fungsi farmasi yang dilakukan dalam program rumah sakit, yaitu: pemantauan terapi obat (PTO); evaluasi penggunaan obat (EPO); penanganan bahan sitotoksik; pelayanan di unit perawatan kritis; pemeliharaan formularium; penelitian; pengendalian infeksi di rumah sakit; sentra informasi obat; pemantauan dan pelaporan reaksi obat merugikan (ROM); sistem formularium, panitia farmasi dan terapi; sistem pemantauan kesalahan obat; bulletin terapi obat; program edukasi ― in-service ‖  bagi apoteker, dokter, dan perawat; investigasi obat; dan unit gawat darurat. Lingkup farmasi nonklinik adalah perencanaan; penetapan spesifikasi produk dan pemasok; pengadaan; pembelian; produksi; penyimpanan; Page 32 KES MAS   Vol. 4, No. 1, Januari 2010 : 1 - 75
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks